Oleh: MARWAN BUKA (Penggiat Karang Taruna Mosio)
Setiap pembangunan besar selalu melahirkan dua hal sekaligus: harapan dan perdebatan. Harapan hadir karena masyarakat menginginkan daerahnya semakin maju, sementara perdebatan muncul karena pembangunan membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Situasi itulah yang kini mengiringi pembangunan dan rehabilitasi Kanal Kota Maba yang nilainya mencapai sekitar Rp 40,8 miliar. Sebagian masyarakat mendukung karena melihatnya sebagai kebutuhan mendesak bagi masa depan ibu kota kabupaten. Sebagian lainnya mempertanyakan besaran anggaran yang dialokasikan pemerintah daerah untuk proyek tersebut. Kedua pandangan ini tentu sah dalam kehidupan demokrasi. Namun persoalannya, sering kali perdebatan hanya berhenti pada angka, sementara substansi pembangunan justru luput dari perhatian.
Padahal pembangunan tidak pernah bisa dinilai hanya dari besar kecilnya anggaran. Sebuah kebijakan publik harus dilihat dari kebutuhan yang melatarbelakanginya, persoalan yang hendak diselesaikan, serta manfaat yang akan dirasakan masyarakat dalam jangka panjang. Jika ukuran yang dipakai hanya angka, maka hampir semua proyek pembangunan akan tampak mahal. Tetapi apabila yang dilihat adalah dampaknya terhadap masa depan daerah, maka cara pandangnya tentu berbeda. Kota Maba saat ini bukan lagi kawasan kecil seperti sepuluh tahun lalu. Sebagai ibu kota Kabupaten Halmahera Timur, Maba berkembang menjadi pusat pemerintahan, pusat pelayanan publik, pusat aktivitas ekonomi, sekaligus pintu masuk bagi siapa saja yang ingin melihat wajah daerah ini.
Hampir seluruh urusan pemerintahan bermuara di kota ini. Mobilitas masyarakat terus meningkat, kawasan pemukiman bertambah, aktivitas perdagangan tumbuh dari tahun ke tahun. Perkembangan tersebut tentu membawa konsekuensi. Semakin berkembang sebuah kota, semakin besar pula kebutuhan terhadap infrastruktur dasar yang memadai. Jalan harus diperbaiki, drainase harus ditata, ruang publik harus disediakan dan yang tidak kalah penting, sistem pengendalian banjir harus dipersiapkan agar pertumbuhan kota tidak berubah menjadi persoalan baru di masa depan. Dokumen perencanaan yang disusun pemerintah menunjukkan bahwa Kota Maba memiliki karakteristik geografis yang relatif datar dan beberapa pada titik kawasan rendah. Curah hujan yang tinggi serta keberadaan daerah aliran sungai yang langsung mengarah ke kawasan permukiman menyebabkan kota ini memiliki tingkat kerentanan terhadap genangan air dan banjir. Dalam kondisi demikian, pembangunan rehabilitasi dan pemeliharaan kanal bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan yang tidak dapat ditunda.
Persoalan ini sesungguhnya bukanlah sesuatu yang baru. Masyarakat Kota Maba tentu mengetahui bahwa ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, beberapa kawasan sering mengalami genangan. Dalam jangka pendek mungkin hal itu dianggap biasa. Namun dalam jangka panjang, ketika jumlah penduduk bertambah dan kawasan kota semakin berkembang kedepan, persoalan tersebut dapat menjadi ancaman serius apabila tidak ditangani sejak sekarang. Karena itu pembangunan rehabilitasi dan pemeliharaan kanal tidak boleh dipahami sekadar sebagai proyek fisik. Kanal merupakan bagian dari sistem pengendalian banjir yang dirancang untuk mengurangi genangan, mengendalikan limpasan air, melindungi kawasan pemukiman, menjaga fasilitas umum, dan mendukung penataan kota yang lebih baik. Infrastruktur seperti ini mungkin tidak selalu menarik perhatian seperti jalan raya atau gedung megah, tetapi manfaatnya sangat menentukan kualitas kehidupan masyarakat.
Mereka yang mempertanyakan besarnya anggaran perlu melihat skala pekerjaan yang sedang direncanakan. Berdasarkan peta pembangunan kanal dalam Kota Maba, total jaringan kanal yang akan akan direhabilitasi mencapai lebih dari 212 kilometer dengan berbagai ukuran lebar saluran yang tersebar di kawasan perkotaan. Ini bukan pekerjaan sederhana yang hanya melibatkan penggalian tanah di beberapa titik, melainkan pembangunan sistem pengendalian air yang terintegrasi dan dirancang untuk menjawab kebutuhan kota dalam jangka panjang. Selain itu, pekerjaan tersebut juga mencakup normalisasi saluran, pengerukan sedimentasi, penguatan tebing, pembangunan struktur pengaman, hingga berbagai pekerjaan teknis lainnya yang membutuhkan biaya besar dan perencanaan yang matang. Karena itu, menilai proyek ini hanya dari angka Rp 40,8 miliar tanpa melihat cakupan pekerjaan yang dilakukan tentu tidak akan menghasilkan penilaian yang adil.
Saya adalah warga Halmahera Timur. Saya lahir dan tumbuh sebagai bagian dari daerah ini. Namun saya tidak berdomisili di Kota Maba. Karena itu, pandangan saya terhadap rehabilitasi dan pemeliharaan kanal tidak lahir dari kepentingan sebagai warga yang akan menerima manfaat langsung dari proyek tersebut. Saya melihatnya dari perspektif yang lebih luas, yaitu kepentingan Halmahera Timur secara keseluruhan. Bagi saya, Kota Maba bukan hanya milik masyarakat yang tinggal di dalamnya. Kota Maba adalah ibu kota kabupaten. Ia adalah wajah Halmahera Timur. Ketika masyarakat dari Wasile, Wasile Selatan, Wasile Timur, Maba Selatan, Maba Tengah, Maba Utara, atau kecamatan lainnya datang mengurus keperluan pemerintahan, mereka datang ke Kota Maba. Ketika investor datang melihat peluang daerah, mereka melihat Kota Maba. Ketika pemerintah pusat berkunjung, yang pertama kali mereka lihat juga adalah Kota Maba.
Karena itu, membangun Kota Maba sesungguhnya bukan hanya membangun satu wilayah. Membangun Kota Maba berarti membangun citra, martabat, dan masa depan Halmahera Timur secara keseluruhan. Ibu kota yang tertata dengan baik akan memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan meningkatkan daya tarik daerah di mata pihak luar. Lebih jauh dari itu, pembangunan kanal juga mengingatkan kita bahwa pembangunan daerah adalah proses panjang yang tidak lahir dari satu generasi semata.
Halmahera Timur dibangun oleh gagasan, kerja keras, dan pengabdian banyak tokoh yang meletakkan fondasinya sejak awal. Salah satu nama yang sulit dipisahkan dari perjalanan pembangunan daerah ini adalah almarhum Ir. Muhdin Hi. Ma’bud. Masyarakat Halmahera Timur mengenal beliau bukan hanya sebagai seorang pemimpin, tetapi juga sebagai sosok yang memiliki perhatian besar terhadap pembangunan daerah. Dalam berbagai kesempatan, almarhum selalu menekankan pentingnya membangun daerah dengan visi jauh ke depan. Bagi beliau, pembangunan bukan hanya menjawab kebutuhan hari ini, tetapi juga menyiapkan ruang hidup yang lebih baik bagi generasi berikutnya.
Karena itu, ketika pemerintah hari ini melakukan penataan dan pembangunan infrastruktur di Kota Maba, termasuk rehabilitasi dan pemeliharaan kanal, sesungguhnya yang sedang dilakukan bukan hanya menata karya yang pernah dirintis almarhum Ir. Muhdin Hi. Ma’bud. Lebih dari itu, pembangunan tersebut merupakan bagian dari upaya melanjutkan visi besar tentang Kota Maba sebagai pusat pemerintahan yang tertata, aman, nyaman, dan mampu menjadi wajah kemajuan Halmahera Timur.
Dalam konteks inilah langkah Pemerintahan Ubaid Yakub dan Anjas Taher menjadikan pembangunan rehabilitasi dan pemeliharaan kanal sebagai salah satu prioritas pembangunan daerah perlu dipahami secara objektif. Sebuah pemerintahan tidak hanya dituntut menyelesaikan persoalan hari ini, tetapi juga harus mampu mengantisipasi persoalan yang mungkin muncul lima, sepuluh, bahkan dua puluh tahun ke depan. Keberanian mengambil keputusan strategis sering kali tidak selalu populer, tetapi itulah salah satu tugas utama seorang pemimpin.
Tentu saja ada yang bertanya, mengapa perhatian besar diberikan kepada Kota Maba? Jawabannya sederhana. Karena Kota Maba adalah ibu kota kabupaten. Sebagai pusat pemerintahan dan pusat pelayanan publik, kondisi Kota Maba akan selalu menjadi cerminan kemajuan Halmahera Timur secara keseluruhan. Namun demikian, menjadikan Kota Maba sebagai prioritas tidak berarti pemerintah mengabaikan kecamatan lain. Pembangunan tetap berlangsung di berbagai wilayah sesuai kebutuhan masing-masing. Infrastruktur jalan, pendidikan, kesehatan, permukiman, serta program pemberdayaan ekonomi masyarakat yang tertuang dalam visi dan misi Ubaid Yakub dan Anjas Taher tetap menjadi bagian dari agenda pembangunan daerah.
Dengan kata lain, pembangunan rehabilitasi dan pemeliharaan kanal Kota Maba bukan simbol ketimpangan pembangunan, melainkan bagian dari strategi pembangunan yang disesuaikan dengan kebutuhan wilayah. Karena itu, masyarakat perlu melihat persoalan ini secara lebih jernih. Kritik tentu tetap diperlukan. Transparansi harus terus diperkuat. Pengawasan publik harus tetap berjalan. Namun kritik yang baik adalah kritik yang bertujuan memperbaiki, bukan menghambat. Kritik yang lahir dari kepedulian akan selalu lebih bermanfaat dibandingkan kritik yang hanya berorientasi pada perdebatan dan kebencian.
Saya percaya bahwa daerah yang maju bukanlah daerah yang menunggu masalah datang baru kemudian bertindak. Daerah yang maju adalah daerah yang mampu membaca tantangan masa depan dan menyiapkan jawabannya sejak sekarang. pembangunan rehabilitasi dan pemelihraan kanal yang dibangun hari ini mungkin belum sepenuhnya dirasakan manfaatnya oleh sebagian orang. Namun ketika Kota Maba terus berkembang dan tekanan terhadap lingkungan perkotaan semakin besar, maka kebutuhan terhadap sistem pengendalian air yang baik akan menjadi sesuatu yang tidak dapat ditawar lagi. Karena itu, masyarakat Kota Maba sudah sepatutnya mendukung langkah pemerintah daerah dalam membangun infrastruktur yang dibutuhkan untuk masa depan kota ini. Dukungan tersebut bukan berarti menghilangkan fungsi kontrol terhadap pemerintah. Sebaliknya, dukungan dan pengawasan harus berjalan beriringan. Pemerintah bekerja dan masyarakat mengawasi, pemerintah membangun dan masyarakat memastikan pembangunan berjalan sesuai tujuan.
Pada akhirnya, rehabilitasi dan pemeliharaan kanal Kota Maba bukan hanya tentang saluran air, beton, dan angka dalam dokumen anggaran. Ia adalah tentang bagaimana Halmahera Timur mempersiapkan masa depannya. Ia adalah tentang upaya menjaga keselamatan warga, melindungi aktivitas ekonomi, dan membangun fondasi bagi daerah yang lebih maju. Kelak ketika kanal-kanal itu berfungsi dengan baik, ketika genangan berkurang, ketika kawasan kota menjadi lebih tertata, dan ketika masyarakat merasakan manfaatnya, kita akan memahami bahwa yang dibangun hari ini bukan sekadar infrastruktur. Yang sedang dibangun adalah ketahanan kota, masa depan daerah, dan harapan generasi Halmahera Timur yang akan datang. Sebab membangun Kota Maba sesungguhnya adalah menata wajah Halmahera Timur.(*)

Tinggalkan Balasan